Rabu, 27 Maret 2013

pelestarian lingkungan alam


Lingkungan adalah kawasan hidup Manusia, hewan dan tumbuhan yang mempengaruhi perkembangan kehidupan baik langsung maupun tidak langsung.
Pelestarian lingkungan adalah upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan dampak negatif yang ditimbulkan suatu kegiatan. Serta menjaga kestabilan lingkungan untuk menjadi tempat hidup Manusia, hewan dan Tumbuhan.
Lingkungan alam adalah daya dukung alam yakni hal-hal yang dimiliki oleh alam serta kemampuannya untuk mendukung kehidupan manusia. Berkurangnya daya dukung alam akan berakibat pula terhadap kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia. Daya dukung alam meliputi segala kekayaan alam yang terdapat dimuka bumi termasuk juga kekayaan alam yang ada di dalam perut bumi. Ringkasnya segala kekayaan alam yang ada diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan kehidupan manusia di muka bumi ini (Wardhana, 1995). hompson dan Barton (1994) yang menyatakan paling tidak
Ada tiga sikap yang mendasari dukungan individu terhadap permasalahan lingkungan yaitu ekosentrik (ecocentric), antroposentrik (anthropocentric) dan apatis (apatic).
1.      Ekosentrik
Individu yang bersikap ekosentrik memandang bahwa perlindungan terhadap lingkungan alam dilakukan untuk kepentingan lingkungan itu sendiri, oleh karenanya mereka berpendapat bahwa lingkungan alam memang patut mendapat perlindungan karena nilai-nilai intrinsik yang dikandungnya. Individu yang memiliki sikap ekosentrik cenderung lebih banyak memberikan perhatian terhadap permasalahan lingkungan dan lebih banyak terlibat dalam kegiatan konservasi lingkungan. Sikap ekosentrik menunjukkan dukungan terhadap permasalahan lingkungan karena merasa bahwa alam patut mendapat perlindungan bukan karena pertimbangan-pertimbangan ekonomis, tetapi lebih kepertimbangan spiritual (Katz dan Oescle, 1993) atau perimbangan moral (Seligman dalam Thopson dan Barton, 1994)

2.      Antroposentrik
Antroposentrik adalah kecenderungan untuk memandang alam sebagai suatu sumber yang bisa dimanfaatkan (expendable) untuk kepentingan manusia. Konsep ini menggunakan kesejahteraan manusia sebagai alasan utama dari setiap tindakannya (Shrivastava, 1995). Individu dengan kecenderungan antroposentrik berpendapat bahwa lingkungan perlu dilindungi karena nilai yang terkandung di dalam lingkungan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Individu dengan sikap antroposentrik cenderung memiliki perhatian yang kurang terhadap permasalahan lingkungan alam dan jarang melakukan kegiatan konservasi atau perlindungan lingkungan alam. Perhatian mereka terhadap lingkungan alam lebih karena kepentingan dirinya (Thompson dan Barton, 1994). Dukungan terhadap permasalahan lingkungan hidup pada individu dengan kecenderungan antroposentrik adalah kenyamanan atau kebahagian hidup manusia, dimana kualitas dan kesehatan hidup manusia menurut mereka sangat tergantung pada konservasi sumber daya alam dan pemeliharaan ekosistem yang sehat. Misalnya: polusi udara sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, pengrusakan hutan dapat mengurangi sumber daya yang dapat digunakan bagi pembuatan obat-obatan untuk menyelamatkan manusia, berkurangnya sumber bahan bakar di dunia akan menurunkan standar kehidupan manusia, dan lain-lain. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa ekosentris dan antroposentris menunjukkan sikap yang positip terhadap permasalahan lingkungan alam, perbedaannya adalah pada alasan dari sikap tersebut (Thompson dan Barton, 1994). Stokols seperti yang dikutip oleh Thompson dan Barton (1994) menyatakan bahwa ada dua bentuk hubungan manusia dengan lingkungannya, yaitu :
a.       Instrumentalis, sama halnya dengan antroposentris melihat lingkungan fisik sebagai sesuatu yang biasa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Katz dan Oescsli (1993), berpendapat bahwa antroposentrik tidak jauh berbeda dengan faham instrumentalis yang melihat alam sebagai sumber yang bernilai tinggi apabila bisa menyediakan kebutuhan hidup mausia.
b.      Spiritualis, sama seperti ekosentris yang menilai lingkungan sebagai sesuatu yang dapat meningkatkan spiritulisme manusia yang secara tidak langsung alam itu sendiri akan memberikan kontribusi bagi keperluan fisik atau materi bagi manusia. Seligman (dalam Thompson dan Barton (1994) menyatakan bahwa perbedaan antara ekosentrik dan antroposentrik tidak jauh berbeda dengan pandangan utilitarian dan moralis. Utilitarian seperti halnya dengan antroposentrik beranggapan bahwa alam memiliki nilai karena alam dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan pandangan moralis, memandang alam dengan pertimbangan-pertimbangan moral terhadap hal-hal yang tidak berhubungan dengan kebutuhan manusia di dunia.

3.      Apatis
Apatis adalah ketidakpedulian terhadap permasalahan-permasalahan lingkungan. Orang yang memiliki sikap apatis terhadap lingkungan alam memiliki kecenderungan tidak mengadakan konservasi terhadap lingkungan alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar